Allah dan Para Malaikat

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat (mendo'akan kebaikan) bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia” [HR at-Tirmidzi (no. 2685) dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 7912)].

Jumat, 20 Desember 2013

BAHTERA RAHMATAN LIL'ALAMIN

BAHTERA RAHMATAN LIL'ALAMIN
 
Jangan tertipu dengan siang dan malam, jangan tertipu dengan kesusahan dan kesenangan, jangan tertipu dengan harta ataupun kemiskinan, jangan tertipu dengan segala kejadian. Karena Yang Maha memiliki kejadian yang akan datang adalah Allah subhanahu wata’ala,..

Yang Maha Tahu hanyalah Allah. Maha Tahu tentang kejadian esok, Maha Tahu dimana seseorang akan wafat, dan Dia masih terus melihat kita di setiap waktu dan saat, dan Dia Yang Maha Baik, Dialah Allah subhanahu wata’ala, Dialah Yang Maha Indah, Dialah Yang Maha Berkasih sayang, Dialah Yang Maha Lembut, Dialah Yang Maha memanggil setiap ruh dan jiwa untuk mencapai keluhuran.

Ingatlah hal itu Sahabat... Kita berusaha dengan segala kemampuan kita, tapi ingatlah bahwa semuanya ditentukan oleh Yang Maha Menentukan. Berusaha dan Berdzikir itu adalah hal terbaik yang kita jalankan dan itulah perbuatan orang yang paling beruntung, tiada orang yang paling beruntung melebihi orang yang banyak berdzikir...

Semakin lemah seseorang maka semakin sedikit ia berdzikir, dan semakin lemahlah ia diombang ambingkan siang dan malam. Ketika datang fitnah ia terguncang, datang pujian ia terguncang, datang kenikmatan ia terguncang, datang musibah ia terguncang, datang kepada teman ia terguncang, ada teman ia merasa bingung, tidak ada teman ia merasa bingung juga, sendiri ia merasa tidak enak, bersama teman ada saja masalah.

Terus muncul kegundahan karena jiwanya tidak mau mengikat dan menyambung hubungan dengan Allah subhanahu wata’ala.

Maka sambungkanlah jiwa kami dengan cahaya keindahan-Mu Ya Rabby..,
Sehingga kami menjadi kuat melewati samudera kehidupan yang dahsyat gelombangnya,
Kami tidak terombang ambingkan oleh ombak hingga timbul dan tenggelam didalam kehidupan yang kami lewati,
Tapi selamatkan kami di bahtera sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
Jangan biarkan kami satu persatu sendiri di dalam perahu kecil yang sebentar terbalik kemudian timbul dan tenggelam,
Sebagian tenggelam dalam kemurkaan-Mu dan sebagian selamat dengan susah payah,
Maka naikkan kami pada bahtera terbesar rahmatan lil’alamin,

Adalah Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang Engkau tunjuk sebagai pembawa kesejukan dan kasih sayang-Mu,
Orang yang paling berbudi pekerti indah kepada muslim atau non muslim, kepada teman atau musuh, tidak ada orang yang lebih ramah yang kita ketahui di dunia ini melebihi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sangat ramah bahkan kepada musuhnya...

Diriwayatkan didalam Sirah Ibn Hisyam, ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahnya, di saat itu Abu Jahl telah menunggu dari kejauhan. Ia telah menggali lubang agar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam jatuh terperangkap kedalam lubang dan celaka, kemudian ia akan mentertawakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata : “seorang Rasul terperangkap kedalam lubang, padahal ia mempunyai wahyu dari Tuhan tetapi tidak mengetahui ada perangkap di depannya“. Lubang sudah digali di depan pintu rumah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi nabi tidak keluar, pintu diketok nabi tetap tidak keluar, diketok kedua kalinya nabi pun tidak keluar, kemudian pintu diketok untuk ketiga kalinya maka Rasulullah membuka pintu dan mengagetkan Abu jahl. Kemudian Abu Jahl kaget dan mundur akhirnya ia masuk sendiri kedalam lubang yang digalinya, lalu siapa yang ia minta pertolongan saat itu ? ialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Teman-teman Abu Jahl yang menyaksikan Abu Jahl yang ingin mencelakakan nabi dari kejauhan, berhasil atau tidak. Maka ketika mereka melihat Abu Jahl yang terjatuh kedalam lubang itu, mereka pun lari takut kepada Nabi Muhammad dan tidak mau menolong Abu Jahl. Maka siapa yang akan menolongnya, siapa yang ia panggil ? Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia memanggil “Ya Muhammad !”, tidak salahkah ia menggali lubang untuk mencelakakan nabi Muhammad dan setelah terpuruk sendiri ia meminta bantuan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tangan mulia itupun terulur untuk mengangkat tangan Abu Jahl, padahal itu musuhnya yang selalu menghalangi dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ia diangkat dan diselamatkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menyelamatkan Abu Jahl dari perangkap yang telah ia buat untuk mencelakakan dirinya, kenapa ? padahal jika nabi Muhammad membunuhnya maka berkuranglah satu orang yang menjadi penghalang dakwah, sudah jelas-jelas siang dan malam ia selalu memerangi dakwah sang Nabi di Makkah, biarkan saja jika ia mati dalam perangkap itu karena akan bertambah mudah dakwah sang nabi. Namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menyelamatkan orang yang paling jahat didalam dakwahnya, kalau bisa ia selamat dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala, kalau bisa ia selamat dari api neraka, maka beliau selamatkan Abu Jahl barangkali ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam supaya ia selamat dari api neraka
, demikian indahnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam...

ISLAM DALAM FALSAFAH WAYANG

ISLAM DALAM FALSAFAH WAYANG

Tamsil paling menonjol yang dekat dengan budaya lokal ialah Wayang dan lakon perang Bala Kurawa dan Pandawa yang sering dipertunjukkan dalam pagelaran wayang. Penyair-penyair sufi Arab dan Persia seperti Fariduddin `Attar dan Ibn Fariedh menggunakan tamsil wayang untuk menggambarkan persatuan mistis yang dicapai seorang ahli makrifat dengan Tuhannya. Pada abad ke-11 dan 12 M di Persia pertunjukan wayang Cina memang sangat populer (Abdul Hadi W.M. 1999:153).

Makna simbolik wayang dan layar tempat wayang dipertunjukkan, berkaitan pula dengan bayang-bayang dan cermin. Dengan menggunakan tamsil wayang dalam suluknya Sunan Bonang seakan-akan ingin mengatakan kepada pembacanya bahwa apa yang dilakukan melalui karyanya merupakan kelanjutan dari tradisi sastra sebelumnya, meskipun terdapat pembaharuan di dalamnya.

Ketika ditanya oleh Sunan Kalijaga mengenai falsafah yang dikandung pertunjukan wayang dan hubungannya dengan ajaran tasawuf, Sunang Bonang menunjukkan kisah Baratayudha (Perang Barata), perang besar antara Kurawa dan Pandawa. Di dalam pertunjukkan wayang kulit Kurawa diletakkan di sebelah kiri, mewakili golongan kiri. Sedangkan Pandawa di sebelah kanan layar mewakili golongan kanan. Kurawa mewakili nafi dan Pandawa mewakili isbat. Perang Nafi Isbat juga berlangsung dalam jiwa manusia dan disebut jihad besar. Jihad besar dilakukan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari kungkungan dunia material.

Sunan Bonang berkata kepada Wujil: “Ketahuilah Wujil, bahwa pemahaman yang sempurna dapat dikiaskan dengan makna hakiki pertunjukan Wayang. Manusia sempurna menggunakan ini untuk memahami dan mengenal "Yang". Dalang dan wayang ditempatkan sebagai lambang dari tajalli (pengejawantahan ilmu) Yang Maha Agung di alam kepelbagaian. Inilah maknanya: Layar atau kelir merupakan alam inderawi. Wayang di sebelah kanan dan kiri merupakan makhluq ilahi. Batang pokok pisang tempat wayang diletakkan ialah tanah tempat berpijak. Blencong atau lampu minyak adalah nyala hidup. Gamelan memberi irama dan keselarasan bagi segala kejadian. Ciptaan Tuhan tumbuh tak tehitung. Bagi mereka yang tidak mendapat tuntunan ilahi ciptaan yang banyak itu akan merupakan tabir yang menghalangi penglihatannya. Mereka akan berhenti pada wujud zahir. Pandangannya kabur dan kacau. Dia hilang di dalam ketiadaan, karena tidak melihat hakekat di sebalik ciptaan itu.”

Selanjutnya kata Sunan Bonang “Suratan segala ciptaan ini ialah menumbuhkan rasa cinta dan kasih. Ini merupakan suratan hati, perwujudan kuasa-kehendak yang mirip dengan-Nya, walaupun kita pergi ke Timur-Barat, Utara-Selatan atau atas ke bawah. Demikianlah kehidupan di dunia ini merupakan kesatuan Jagad besar dan Jagad kecil. Seperti wayang sajalah wujud kita ini. Segala tindakan, tingkah laku dan gerak gerik kita sebenarnya secara diam-diam digerakkan oleh Sang Dalang.”

Mendengar itu Wujil kini paham. Dia menyadari bahwa di dalam dasar-dasarnya yang hakiki terdapat persamaan antara mistisisme Hindu dan tasawuf Islam. Di dalam Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, penyair Jawa Kuno abad ke-12 dari Kediri, falsafah wayang juga dikemukakan. Mpu Kanwa menuturkan bahwa ketika dunia mengalami kekacauan akibat perbuatan raksasa Niwatakawaca, dewa-dewa bersidang dan memilih Arjuna sebagai kesatria yang pantas dijadikan pahlawan menentang Niwatakawaca. Batara Guru turun ke dunia menjelma seorang pendeta tua dan menemui Arjuna yang baru saja selesai menjalankan tapabrata di Gunung Indrakila sehingga mencapai kelepasan (moksa)

Di dalam wejangannya Batara guru berkata kepada Arjuna: “Sesunguhnya jikalau direnungkan baik-baik, hidup di dunia ini seperti permainan belaka. Ia serupa sandiwara. Orang mencari kesenangan, kebahagiaan, namun hanya kesengsaraan yang didapat. Memang sangat sukar memanfaatkan lima indra kita. Manusia senantiasa tergoda oleh kegiatan indranya dan akibatnya susah. Manusia tidak akan mengenal diri peribadinya jika buta oleh kekuasaan, hawa nafsu dan kesenangan sensual dan duniawi. Seperti orang melihat pertunjukan wayang ia ditimpa perasaan sedih dan menangis tersedu-sedu. Itulah sikap orang yang tidak dewasa jiwanya. Dia tahu benar bahwa wayang hanya merupakan sehelai kulit yang diukir, yang digerak-gerakkan oleh dalang dan dibuat seperti berbicara. Inilah kias seseorang yang terikat pada kesenangan indrawi. Betapa besar kebodohannya.” (Abdullah Ciptoprawiro 1984)

Selanjutnya Batara Guru berkata, “Demikianlah Arjuna! Sebenarnya dunia ini adalah maya. Semua ini sebenarnya dunia peri dan mambang, dunia bayang-bayang! Kau harus mampu melihat Yang Satu di balik alam maya yang dipenuhi bayang-bayang ini.” Arjuna mengerti. Kemudian dia bersujud di hadapan Yang Satu, menyerahkan diri, diam dalam hening. Baru setelah mengheningkan cipta atau tafakur dia merasakan kehadiran Yang Tunggal dalam batinnya. Kata Arjuna:

    Sang Batara memancar ke dalam segala sesuatu
    Menjadi hakekat seluruh Ada,
    sukar dijangkau
    Bersemayam di dalam Ada dan Tiada,
    Di dalam yang besar dan yang kecil,
    Yang baik dan yang jahat
    Penyebab alam semesta, pencipta dan pemusnah
    Sang Sangkan Paran (Asal-usul) jagad raya
    Bersifat Ada dan Tiada,
    Zakhir dan batin

  
Demikianlah, dengan menggunakan tamsil wayang, Sunan Bonang berhasil meyakinkan Wujil bahwa peralihan dari zaman Hindu ke zaman Islam bukanlah suatu lompatan mendadak bagi kehidupan orang Jawa. Setidak-tidaknya secara spiritual terdapat kesinambungan yang menjamin tidak terjadi kegoncangan. Memang secara lahir kedua agama tersebut menunjukkan perbedaan besar, tetapi seorang arif harus tembus pandang dan mampu melihat hakikat sehingga penglihatan kalbunya tercerahkan dan jiwanya terbebaskan dari kungkungan dunia benda dan bentuk-bentuk. Itulah salah satu inti ajaran Sunan Bonang dalam Suluk Wujil.

Karomah Syekh Abdul Qodir Jailani Ketika Jadi Gelandangan


Syekh Abdul Qodir Al Jailani pernah mengalami musim paceklik di Baghdad. Saat itu ulama yang menganut madzhab Imam Ahmad ini sampai memakan sisa-sisa makanan di tempat sampah. Dalam keadaan yang sangat lapar beliau keluar untuk mencari makanan. Namun setiap sampai ke tempat sampah, selalu ada orang lain yang mendahuluinya. Jika Syekh Abdul Qodir Jailani melihat orang-orang fakir berebut di tempat sampah, maka beliau memilih meninggalkan tempat itu. Dan hal itu terus berlaku saat menemui tempat pembuangan, dan Syekh Abdul Qodir Jailani akhirnya tidak memperoleh makanan.
Beliau akhirnya berjalan hingga sampai di Masjid Yasin di Baghdad, karena sudah tidak mempu lagi melanjutkan perjalanan karena lapar, dan memilih duduk di dekat masjid tersebut. Disaat yang sama datanglah seorang pemuda ke masjid dengan membawa roti, dia duduk dan mulai makan. Karena rasa lapar yang menusuk, setiap pemuda itu mengambil suapan maka Syekh Abdul Qodir Jailani ingin membuka mulut, meski beliau terus berusaha menahannya.
Akhirnya pemuda itu pun menoleh ke arah Syekh Abdul Qodir Jaelani seraya mengatakan,”Bismillah ya Syech”, dengan maksud ingin memberi suapan kepada Syekh Abdul Qodir Jailani. Syekh Abdul Qodir Jailani menolak, namun pemuda itu terus-menerus memaksa, hingga akhirnya Syekh Abdul Qodir Jailani memakan sedikit dari apa yang diberikan.
Setelah itu si pemuda pun bertanya,”Siapa engkau, apa pekerjaanmu, dari mana engkau?”
Syekh Abdul Qodir Jailani pun menjawab,”Saya pencari ilmu dari negeri Jilan”.
Si pemuda pun membalas,”Saya juga dari Jilan. Apakah engkau mengenal seorang pemuda dari Jilan yang namanya Abdul Qadir cucu dari Abu Abdullah As Shuma’i yang ahli zuhud?”
Syeikh Abdul Qadir pun menjawab,”Itu adalah saya”.
Mendangar jawaban itu si pemuda pun terperengah,
”Demi Allah saya sampai di Bagdad dengan sisa-sisa uang yang saya memiliki dan saya telah mencari-cari dimana keberadaanmu namun tidak ada seorang pun yang bisa memberikan petunjuk. Sampai akhirnya uang saya habis hingga 3 hari saya tidak makan. Dengan terpaksa saya menggunakan uang yang dititipkan untukmu untuk membeli roti ini. Makanlah sesungguhnya ia milikmu.”
Syekh Abdul Qadir Jailani pun bertanya, apa yang sebenarnya terjadi. Pemuda itu pun menjelaskan bahwa ibu Syekh Abdul Qodir Jailani telah menitipkan kepadanya 9 dinar untuk disampaikan kepada Syekh Abdul Qodir Jailani. Dan uang itu pun sudah berkurang untuk dibelikan roti. Syekh Abdul Qodir Jailani pun merelakannya dan memberikan kepada pemuda itu sisa roti serta sebagian dinar. (Dzail Thabaqat Al Hanabilah, 1/298)
Meski menolak untuk meminta-minta, Syekh Abdul Qodir Jailani tetap memperoleh rezeki bahkan di saat yang sama beliau malah memberikan sedekah kepada orang lain.
Yang juga perlu dicontoh adalah sifat Syekh Abdul Qodir Jailani yang selalu mengutamakan orang lain, sehingga Allah Swt pun mencukupi rezekinya.

Ilmu

ILMU

ILMU
 
Selayaknya bagi seorang muslim senantiasa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar ia diberikan pemahaman akan agamanya dikarenakan Ilmu adalah suatu jalan yang akan menyampaikannya kepada kejayaan di dunia dan akhirat.

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ.

“Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu, Ridho terhadap apa yang ia cari”. (Hadits Shohih Dishohihkan oleh Al-Imam Al-Albaniy di dalam Shohih Al-Jaami’ Ash-Shoghiir dari Hadits Sofwan bin ‘Assal Radhiyallahu ‘anhu)

Di dalam hadits yang lain Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَن سَلَكَ طَرِيقاً يَلتَمِسُ فِيهِ عِلماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ به طَرِيقاً إِلىَ الجَنَّةِ.

“Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan untuk mencari suatu ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke Surga”. (Hadits Shohih Dishohihkan oleh Al-Imam Al-Albaniy di dalam Shohih Al-Jaami’ Ash-Shoghiir dari Hadits Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu)

Ilmu itu tidak mungkin terpenuhi melainkan juga dengan berusaha menempuh segala sebab-sebab yang akan mengantarkannya untuk hal tersebut,

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّمَا العِلمُ بِالتَّعَلُّمِ.

“Sesungguhnya ilmu itu semata-mata diperoleh dengan dituntut (mempelajarinya)”. (Al-Hadits dihaasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albany di dalam Al-Silsilah Ash-Shohihah (1/ 605), dan Juga Al-Hafidh ibnu Hajar di dalam Syarah Fathul Bariy dari Hadits Abu Darda’).

Berkata Al-Hafidh ibnu Hajar Rahimahulloh: “Makna (dari hadits) bukanlah ilmu yang diakui itu kecuali apa-apa yang diambil dari para Nabi dan pewaris-pewaris mereka dengan cara mempelajarinya”. (Fathul Baariy Kitaabul Ilmi bab berilmu sebelum berbicara dan beramal).

Nabiyullah Musa ‘Alaihis salam setelah memperoleh khabar dari Robb-nya subhanahu wa ta’ala bahwasannya seorang hamba-Nya yang bernama khidir ‘Alaihis salam memiliki ilmu yang tidak diketahui olehnya. Maka ia pun memohon kepada-Nya subhanahu wa ta’ala agar ditunjukkan jalan baginya untuk bisa berjumpa dengannya dan tidak merasa puas diri atau merasa cukup dari apa yang beliau peroleh dari ilmu. Untuk tujuan itu pula beliau mau bersusah payah, dan juga memikul lelah dalam menempuh jalan untuk bisa bertemunya dengan hamba-Nya tersebut serta menimba ilmu darinya, sebagaimana yang Allah telah kisahkan di dalam Kitab-Nya. Dalam keadaan beliau seorang Nabi yang Mulia ‘alaihis salam.

Maka sepatutnya bagi seorang muslim yang telah merasakan kenikmatan ilmu untuk ia menuntut ilmu tersebut dari ahlinya.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’I Rahimahulloh: “Tidaklah seorang akan berhasil dalam menuntut ilmu yang mana ia menuntutnya dengan rasa bosan, atau merasa cukup, akan tetapi barangsiapa yang menuntutnya dengan pengorbanan, kehidupan yang sempit, dan berkhidmat untuk ilmu tersebut maka merekalah yang akan berhasil”.

Berkata Al-Imam Muslim di dalam Shohihnya dari Yahya bin Abi Katsir Rahimahulloh: “Ilmu itu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang santai”.

Semoga Allah memberi taufiq bagi kami dan juga para para pembaca untuk dimudahkan dalam memahami agamanya. Sesungguhnya barangsiapa yang diberikan kefaqihan baginya dalam agamanya maka sesungguhnya ia telah diberkan kebaikan yang sangat banyak.

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan memberikan ia pemahaman dalam agamanya”.

SYEKH ABDUL QODIR AL JAELANI MENGHIDUPKAN ORANG MATI

syekh abdul qodir al jaelani menghidupkan orang mati
 
Suatu hari Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani berjalan-jalan dan dalam perjalanan itu berjumpa dengan dua orang, satu orang muslim dan yang satu orang nasrani. Mereka berdebat hebat sampai Al jaelani mendekat ingin tahu apa yang terjadi. Kemudian seorang Muslim menjelaskan perihal apa yang sedang mereka perdebatkan kepada Al Jaelani. Si muslim mejelaskan bahwa Al Isuwi nama dari orang nasrani tersebut mengatakan bahwa Nabi Isa lebih utama dari Nabi Muhammad. Kemudian Al Jaelani menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya bahwa nabi terakhir dan penutup bagi para nabi adalah Muhammad SAW. Namun orang nasrani tersebut selalu membantah dan tak mau menerima penjelasan dari AL Jaelani.

Akhirnya Al Jaelani meminta bukti dari orang nasrani tersebut. Al Isuwi menjawab bahwa nabinya mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Al Jaelani menjawab, "Aku bukanlah seorang Nabi, namun aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW, jika nanti dengan izin Allah aku bisa menghidupkan orang mati sebagaimana Isa Nabimu,,, Apakah kamu mau beriman kepada Allah dan mau mengakui Bahwa Nabi penutup adalah Muhammad SAW?"

Kemudian Al Jaelani meminta kepada orang nasrani supaya menujukan kuburan yang mana yang ingin dihidupkan lagi hingga sampailah mereka pada kuburan yang dituju. Sebelum dihidupkan, Al Jaelani menjelaskan dulu perihal orang yang telah mati tersebut dulunya semasih hidup didunia.

Al Jaelani berkata" dahulu orang ini adalah seorang penyanyi,,, Bagaimana kalau ahli kubur ini saya bangunkan dan saya suruh dia bernyanyi..?"
"Silahkan saja,,," dengan nada tak percaya dan bingung bahwa Al Jaelani mampu menghidupkan orang tersebut.

Sesaat kemudian Al Jaelani melangkah kedepan kuburan lalu dia berkata seperti apa yang diucapkan Nabi Isa ketika menghidupkan orang yang sudah mati. ''Bangunlah Dengan Izin Allah"

Serta merta kuburan itupun bergerak dan membelah seketika, dan munculah orang yang sudah mati tersebut dan Al Jaelani menyuruhnya bernyanyi.

Dengan rasa tak percaya dan takjub dengan kejadian tersebut kedua orang tersebut saling bertatapan keheranan. Namun kejadian itu adalah kejadian yang nyata yang dilihat dengan kedua mata mereka sendiri. Dan akhirnya AL Isuwi mau mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabinya dan diapun masuk Islam dihadapan AL Jaelani.

Kisah Ini Diambil Dari "Sejuta Keajaiban Dalam Dunia Sufi"

Arsip Blog

4 Macam Manusia dalam Pandangan Syekh Abdul Qodir Jailani

syaikh_abdul_qadir_jailani.jpg 
 
Dalam pandangan Syekh Abdul Qodir Jailani, manusia dibagi menjadi empat kategori, yaitu :
  • Pertama, Golongan manusia yang tidak punya hati dan lidah. Mereka mayoritas masyarakat yang tidak peduli tentang kebenaran dan keutamaan, hanya tunduk pada indra fisik saja.
  • Kedua, Golongan yang punya lidah, tetapi tidak punya hati. Kelompok ini adalah orang yang terpelajar dan memiliki retorika yang bagus, yang selalu menganjurkan umat untuk berbuat baik dan benar. Namun, mereka sendiri berbuat tidak sesuai dengan perkataannya sendiri, bahkan kebalikannya. Inilah orang yg pembicaraannya sangat menarik, tetapi hatinya jelek.
  • Ketiga, Golongan manusia yang punya hati, tetapi tidak punya lidah. Mereka inilah mukmin sejati, yang selalu sadar akan kelemahan dan kekurangan, sehingga berusaha terus mensucikan diri dari hal- hal kotor. Bagi mereka diam lebih baik dibandingkan berbicara, tetapi membingungkan umat.
  • Keempat, Golongan yang memiliki hati dan juga lidah. Mereka adalah orang yang mendapatkan pengetahuan sejati, dilengkapi dengan bimbingan dari Allah kemudian menjadi penyambung kenabian. Mereka adalah kelompok tertinggi setelah kelompok para nabi.
Baca Juga Artikel Sebelumnya: